Menunggu Hari Puisi Jadi Hari Besar Nasional

Rabu, 01/03/2017 07:01 WIB
Malam-Anugerah-Hari-Puisi-Indonesia-2016-1

Malam-Anugerah-Hari-Puisi-Indonesia-2016-1

OLEH Fakhrunnas MA Jabbar

TAK mudah memperjuangkan secara politis untuk menjadikan Hari Puisi Indonesia (HPI) yang jatuh pada tanggal 26 Juli menjadi Hari Besar Nasional. Banyak pihak yang berkepentingan dan berkompeten untuk meluluskannya. Masih ingat ketika Jokowi menggaungkan bakal mengukuh Hari Santri beberapa tahun silam. Memang janji itu terwujud walau digandeng dengan hari besar yang sudah ada sebelumnya.

Ketika perayaan puncak  HPI  di Graha Bakti Budaya TIM, Jakarta, 12 Oktober 2016 malam, ratusan penyair yang turut hadir pasti berharap agar suatu ketika pe ngukuhan HPI menjadi Hari Besar Nasional bisa terwujud. Langkah-langkah nyata kea rah itu mulai terbersit ketika Menteri Agama, Lukman Hakim  Syaifuddin yang tampil membaca puisi di acara itu  berjanji akan mengondisikan agar para penyair pun suatu saat nanti bisa tampil baca puisi di Istana Negara. Pidato singkat Menteri Agama itu disambut tepuk tangan gemuruh ratusan penyair dan masyarakat pencinta puisi.

Kemeriahan  perayaan HPI kali ini semakin sempurna ketika Wapres Jusuf Kalla (JK) menyempatkan hadir dan ikut baca puisi. JK pula yang didaulat menyerahkan hadiah Sayembara Buku Puisi tahun 2016 kepada Pemenang Utama, Hasan Aspahani dengan sebuah trofi dan uang tunai Rp. 50 juta. Sementara lima pemenang lainnya masing-masing Sosiawan Leak, Ahmadun Yosi Herfanda, Ummi Kulsum, Tjahjono Widarmanto dan Rini Intami masing-masing meraih uang tunai Rp. 10 juta ditambah trofi.

Penyelenggaraan  HPI yang keempat kali ini memang sangat meriah. Lebih dua ratus penyair dari seluruh Indonesia. Hebatnya, sikap volunterisme para penyair ditunjukkan dengan bersusah payah hadir dengan menanggung seluruh biaya terkait transportasi, akomodasi dan konsumsi. Boleh jadi, pidato kebudayaan penyair Rida K. Liamsi yang berjudul Hari Puisi Indonesia (HPI) sebagai Tanah Air Para Penyair makin mengukuhkan perayaan HPI begitu semarak dan makin banyak melibatkan para penyair. Rida merupakan penggagas lahirnya HPI yang didukung sekitar 40 deklarator saat dikukuhkan di Pekanbaru tahun 2012 silam.

Kerinduan para penyair Indonesia agar mempunyai Hari Puisi sebenarnya sudah membuncah sejak lama. Seperti diungkapkan Rida K. Liamsi, sejumlah degara dunia seperti Korea Selatan dan Vietnam sudah sejak lama memiliki dan merayakan hari puisi tersebut. Bahkan, badan kebudayaan dunia, Unesco sendiri sudah mengukuhkan Hari Puisi Dunia.

Hampir senada, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri saat didaulat baca puisi pada momentum yang sama menyampaikan bahwa negara Indonesia lahir dari sebuah puisi yang bernama Sumpah Pemuda. “Teks Sumpah Pemuda pada hakikatnya adalag sebuah puisi yang memberikan semangat bagi bangsa Indonesia itu mendirikan negara dan meraih kemerdekaannya.”

Penetapan Hari Puisi Indonesia yang disepakati tepat tanggal 26 Juli –diambil dari hari lahirnya penyair hebat dan pelopor puisi modern Indonesia, Chairil Anwar, tentu merupakan pilihan yang tepat. Chairil sudah diakui secara luas oleh semua rakyat Indonesia memberikan kontribusi besar dalam menyemangati perjuangan para pejuang saat membela negara hingga proklamai kemerdekaan oleh dwi tunggal, Soekarno-Hatta.

Penetapan hari lahir Chairil Anwar sebagai tanggal Hari Puisi tentu setelah melewati pertimbangan segala sisi yang melibatkan kalangan penyair lintas generasi, pertimbangan historis dan pengaruh puisi Chairil bagi masyarakat Indonesia sejak dulu hingga kini.

Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang digelar di Pekanbaru tahun 2012 silam yang dibacakan langsung oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri bersama 40 penyair Indonesia dari Sabang hingga Merauke memang menjadi tonggak penting dalam mengagungkan puisi di negeri ini. Tentu saja, deklarasi itu diharapkan terus bergulir ke ranah politis agar suatu saat nanti dapat dikukuhkan oleh pemerintah sebagai Hari Besar Nasional.

Kehadiran Wapres JK dan Menteri Agama, Lukman Hakim Syaifuddin pada puncak perayaan HPI di TIM tahun ini dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam menggesa pengakuan HPI oleh negara. Setidak-tidaknya, Wapres JK melihat secara langsung bagaimana antusiasme para penyair dari seluruh Indonesia yang berbaur dengan ratusan masyarakat peminat sastra berhimpun-pepat di pusat kesenian bergengsi di Indonesia itu.

Meski perayaan HPI sudah memasuki tahun keempat, tampaknya harapan Rida K. Liamsi agar seluruh daerah di Indonesia secara sporadis atau beranting ikut merayakan HPI dalam skala dan kapasitas masing-masing, masih perlu dibuktikan. Selama ini, perayaan HPI di daerah baru dilakukan secara terbatas terutama Riau yang menjadi tuan rumah kelahiran HPI. Padahal, apabila secara beranting perayaan HPI dapat dilakukan oleh semua daerah tentu gema HPI dapat memperkuat desakan agar HPI benar-benar dikukuhkan oleh pemerintah menjadi salah satu Hari Besar Nasional.

Tentu saja masih diperlukan upaya dan kerja keras para penyair untuk menempuh jalur politik agar keberadaan HPI benar-benar diakui secara politis. Apalagi, Sumpah Pemuda yang dinilai oleh Sutradji sebagai puisi yang berperan besar dalam berdirinya Negara Indonesia patut pula menjadi renungan pihak-pihak berkompeten. ***

***

BIO FAKHRUNNAS MA JABBAR

Ir. Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom,  lahir di Airtiris, Riau-Indonesia, 18 Januari 1959, merupakan anak ke-enam dari dua belas bersaudara pasangan Buya Mansur Abdul Jabbar dan Hj. Aminsuri Wahidy. Menamatkan  pendidikan SD Nomor 13  di Pekanbaru, SMP 1 dan SMA 129 sekaligus Pesantren YPPI (sampai Tsnawiyah) di Bengkalis. Menulis dan mempublikasikan tulisannya berupa puisi, cerpen, esai dan artikel di hampir 100 media yang terbit di Indonesia sejak 1975- sekarang.  Telah menulis dan menerbitkan buku yakni  5 kumpulan puisi  (antara lain Airmata Barzanji, 2005 dan Tanah Airku Melayu, 2007), 3 kumpulan cerpen (Jazirah Layeela, 2004, Sebatang Ceri di Serambi, 2006 dan Ongkak, 2010), 2 biografi (Zaini Kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998) serta 5 buku cerita anak. Tahun 2015 akan menerbitkan buku kumpulan cerpen Lembayung Pagi, 30 Tahun Kemudian.

Buku cerpen Sebatang Ceri di Serambi meraih Buku Pilihan Anugerah Sagang, 2007 sekaligus menjadi nominator Khatulistiwa Literary Award tahun yang sama.  Puisinya terhimpun di dalam Antologi De Poetica (antologi puisi Indonesia-Malaysia-Portugis) dan cerpennya Rumah Besar Tanpa Jendela terhimpun dalam buku Horison Sastra Indonesia- Buku Cerpen dan diangkat menjadi film TV (La Tivi 2003). Cerpennya Sebatang Ceri di Serambi diterjemahkan ke bahasa Prancis (Un cerisier devant une  veranda) dimuat di majalah Le Banian (2013).  Tahun  2008 terpilih sebagai Budayawan/ Seniman Pilihan Anugerah Sagang dan tahun yang sama dianugerahi Seniman Pemangku Negeri (SPN) oleh Dewan Kesenian Riau.

Sering mengikuti kegiatan sastra dan budaya sebagai pemakalah dan baca puisi  di Indonesia dan luar negeri  di antaranya 99’Cultural Exchange Programme- Unesco di Seoul dan Kyong Ju (Korsel), PPN IV Brunei Darussalam, PSN XVI Singapura, Baca Puisi Dunia Numera 2014 dan sebagainya. Bersama para penyair lainnya, Fakhrunnas tampil baca puisi di KPK, Jakarta dalam acara Puisi Menolak Korupsi.

Bulan Oktber 2014, dia tampil sebagai pemakalah dan baca puisi pada acara 6th Meeting of Indonesia Literary di Paris ditaja oleh Ascosiation Franco-Indonesien (AFI). Kemudian April  2015 bersama penyair Ramon Damora selama sepekan menjadi dosen tamu  dan baca puisi di Institut National des Langues et Civilization Orientales (Institut Nasional Bahasa dan Kebudayaan Timur- Inalco), Paris (Prancis) serta berceramah/ baca puisi di Universitas Leiden, Belanda. Bulan Desember 2015 tampil baca puisi bersama tiga penyair Riau lain di acara Indonesia Creative, di Basel, Swiss yang ditaja Verrein Indonesia Schweiz (VIS). Awal 2016 ini, Fakhrunnas baca puisi di acara Temu Penyair Serumpun di Singapura dan  Mahrajan Persuratan dan Seni Islam di Kota Kinabalu dan Membakut, Sabah (Malaysia). Terakhir, bulan Juli menghadiri Temu Penyair 8 Negara di Banda Aceh dan Puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) di Pekanbaru dan Forum Penyair Asean 2016 di Kuala Lumpur, September 2016.

Berkhidmat  sebagai dosen  pada Universitas Islam Riau sejak  1986 dan dunia kewartawan (30 tahun lebih) serta dunia public relations (15 tahun). Tinggal di Pekanbaru.. Email : fakhrunnas_Jabbar@yahoo.com, blog: www.fakhrunnasjabbar.blogspot.com dan FB: Fakhrunnas MA Jabbar. ***

BACA JUGA